ilmu hikmah

MACAM-MACAM “AMALAN ANDALAN” : Keutamaan Amalan yg berhubungan dg Muamalah di antara manusia


Mungkin di antara kita ada yang menfokuskan diri hanya kepada
amalan-amalan di masalah ibadah maghdhoh saja sebagai “Amalan
Andalan“. Seperti Sholat, puasa, tahajjud, ataupun yang semisal.

Hal itu tidak salah, bahkan itu juga yang sering dilakukan oleh para
Nabi. Seperti misal Puasa Daud yg sehari puasa dan sehari tidak yg rutin
dilakukan oleh Nabi Daud ‘Alaihis Salaam.

Namun Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam tidak hanya mengajarkan
dan menghasung kita untuk memperhatikan hanya masalah ibadah maghdhoh
saja, bahkan Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan
dan menghasung kita untuk memperhatikan amalan muamalah di antara
manusia (Ghoiru Maghdhoh) juga.

Dua hal ini (Ibadah Maghdhoh dan amalan muamalah di antara manusia)
perlu dan haruslah saling berkesinambungan.

Tidak boleh hanya memperhatikan yg satu dan kemudian meremehkan yang
lain seperti perkataan : “Tidak apa-apa aku tidak sholat yang penting
aku baik dalam bergaul“, ataupun “Orang yang baik ibadahnya, namun
muamalahnya terhadap istriya jelek dan tidak memperhatikannya”

Bahkan Rosululloh shalalloohu ‘alaihi wa sallam pun kadang juga
menyebutkan kelebihan-kelebihan amalan-amalan muamalah di antara
manusia, yg kadang lebih utama dibandingkan amalan yg lainnya. Para
Shohabat Rodhiyalloohu ‘anhum mengetahui hal ini, dan mereka kadang
menanyakan hal ini kepada Rosululloh.

Ada shohabat yang menjadikan amalan muamalah di antara manusia ini,
menjadi amalan andalannya yg diunggulkan dalam meraih Jannah !! Namun
tentu saja para shohabat rodhiyalloohu ‘anhum itu tetap melaksanakan
amalan-amalan yg wajib dan tidak meremehkan amalan-amalan yang lainnya…..

————————-

Biasanya tiap-tiap shohabat rodhiyalllohu ‘anhu itu punya amalan
andalannya masing-masing, yang sesuai dengan keadaankemampuan dirinya.
Sebagaimana amalan andalan shohabat yg miskin tentu akan berbeda
dibandingkan dengan amalan andalan shohabat yg kaya, dalam perihal
amalan yg berkaitan dengan masalah harta.

Ada Shohabat yang lebih kuat untuk amalan membaca Al-Qur’an di malam
hari dibandingkan sholat tahajjud, dan ada juga yang sebaliknya. Dan ada
juga shohabat-shohabat yang mempunyai beberapa amalan andalan
sekaligus!! Seperti Abu Bakar rodhiyalloohu ‘anhu, Umar rodhiyalloohu
‘anhu, ‘Utsman rodhiyalloohu ‘anhu, ‘Ali rodhiyalloohu ‘anhu, dan lain-lain.

 

Karena umumnya keutamaan masalah ibadah maghdhoh sudah biasa dibahas,
seperti misal keutamaan sholat tahajjud, puasa, dan yg semisal. Maka
berikut kita akan coba menerangkan dari sisi beberapa amalan muamalah
diantara manusia yg memiliki sangat banyak keutamaannya saja, walaupun
sebenarnya masih ada juga yg lain.

Semoga kita juga bisa menjadikan hal ini sebagai “amalan andalan” kita
juga, di samping kita tetap mengerjakan amalan-amalan kita yg wajib.
Aamiinn!!

Adapun beberapa amalan muamalah diantara manusia yg memiliki keutamaan
yg besar itu adalah :

1. Orang yang paling memberikan manfaat (dalam hal kebaikan) bagi orang
lain

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat bagi manusia.” [Hadits dihasankan oleh al-Albani
di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).]

2. Menggembirakan hati seorang Muslim

3. Menghilangkan kelaparannya

4. Memenuhi kebutuhan sesama Muslim yg mengalami kesulitan hidup

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ
الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ
دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ
فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ ، شَهْرًا

Dari Ibnu Umar RA bahwasanya ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah
Shalalloohu ‘alaihi wa sallam dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah
Subhaanahu wa Ta’aala?

Dan apakah amalan yang paling dicintai Allah Subhaanahu wa
Ta’aala?”

Beliau Shalalloohu ‘Alaihi wa Sallam menjawab,

“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling memberi
manfaat kepada sesama manusia.

Adapun amalan yang paling dicintai Allah Subhaanahu wa Ta’aala
adalah :

engkau menggembirakan hati seorang muslim,

atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya,

atau engkau melunaskan hutangnya,

atau engkau hilangkan kelaparannya.

Sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim
lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf di masjid Madinah ini (masjid
Nabawi) selama satu bulan penuh.”

(HR. Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Qadha-u Hawaij no. 36, Ath-Thabarani dalam
Al-Mu’jam Al-Awsath no. 6204, Al-Mu’jam Ash-Shaghir no. 862, dan
Al-Mu’jam Al-Kabir no. 13472. Dinyatakan hasan li-ghairih dalam tahqiq
Al-Mu’jam Al-Kabir dan Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 2623.
Dinyatakan shahih li-ghairih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits
Ash-Shahihah no. 906)

5.Menyambungkan atau memperbaiki Hubungan silaturahim di antara Saudara
dan Keluarga

((أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟)) قَالُوا: بَلَى، يَارَسُولَ
اللَّهِ. قَالَ: ((إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ هُوَ الْحَالِقَةُ)) (رواه أبو
داود: 4273)

Rosululloh berkata “Maukah kalian saya tunjukkan sebuah amal yang lebih
baik daripada puasa (sunnah ), shalat (sunnah), dan shadaqah?”

Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Yaitu memperbaiki hubungan keluarga, karena rusaknya
hubungan keluarga ibarat gunting yang memotong agama.” (HR. Abu Dawud,
no. 4273)

6. Tidak Dengki atau Hasad kepada orang lain

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata :

كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي
يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ
ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى . فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا قَامَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبِعَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ: إِنِّي لَاحَيْتُ
أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ
؟ قَالَ: نَعَمْ

“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka beliaupun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang
penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshoor, jenggotnya
masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di
tangan kirinya.

Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan
perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang
sama seperti kemarin.

Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga
orang tersebut dengan kondisi yang sama pula.

Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash
mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan
ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari.
Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu hingga berlalu tiga hari?.
Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.

Anas bin Malik melanjutkan tuturan kisahnya :

وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ
شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ
لِصَلَاةِ الْفَجْرِ . قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ
الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللهِ إِنِّي لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي
غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ
مِرَارٍ: ” يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ” فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ
أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي
بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ .
قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي
لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ . فَقَالَ عَبْدُ
اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap
bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak
melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia
terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun
berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk
sholat subuh.

Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap
kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku
meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah
(fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku,
apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada
kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka
akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa sih amalanmu untuk aku
contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang
telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam?”.

Orang itu berkata : “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”.

Abdullah bertutur : “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku
dan berkata : Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak
menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim
pun dan aku tidak pernah hasad kepada seorangpun atas kebaikan yang
Allah berikan kepadanya“.

Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi
penduduk surga-pen), dan inilah yang tidak kami mampui” (HR Ahmad 20124
no 12697, dengan sanad yang shahih)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ilmu hikmah

riwayat mama harun